PELANGI
JINGGA DI UJUNG SENJA RAMADHAN
Oleh : Fitriyani
“Jingga.... jika tiba saatnya
nanti aku, aku ingin kau ada untuk senja dalam hidupku, berada di sampingku,
dalam kelemahan dan kerapuhan tuaku. Karena aku yakin kau adalah satu dari sekian
banyak manusia yang Tuhan ciptakan untukku. Jingga, aku mencintaimu.....”
* * *
Masih hangat kuingat
kata-katamu dilangit sore yang dingin. Dalam senja yang kita nikmati di pantai
itu. Kita nikmati ribuan keindahan Tuhan yang tercipta. Dengan kasih yang Tuhan
beri, aku merasakan semuanya. Damai....
Namun pahit ketika terbayang.
Pelukmu yang begitu erat namun lemah saat itu, aku tak tahu. Sempat terlintas
bayang indah dalam otakku tentang saat itu.
* * *
“ Rama sayang, lihatlah !!
pelangi itu sangat indah.. penuh dengan warna.. Rama, jika kau disuruh untuk
memilih satu warna diantara warna-warna pelangi itu, apa warna yang kau pilih
?”
“ tentu aku kan memilihmu
sayaang....”
“ Rama.... aku menyuruh kau
untuk memilih warna diantara warna pelangi, kenapa kau malah memilihku ?”
“ Namamu adalah jingga, dan
bagiku kau adalah keindahan pelangi dalam hidupku... bersyukurlah aku karena
dapat bersamamu saat ini, menikmati indah pelangi dengan kesejukan udara di
senja ini,
Jingga... jika aku disuruh
memilih sesuatu di dunia ini, maka kau adalah pilihan terindah yang pernah ada”
Aku hanya mampu tersipu malu.
Langkah kami lanjutkan untuk
menempuh perjalanan pulang, pantai senja yang indah telah berlalu dengan
nyiurnya yang tak henti melambai. Kunyalakan mesin mobil sebentar untuk sekedar
memanaskannya, lalu kemudian ku kemudi dengan Rama yang masih hangat berada di
sampingku.
Telah sampai ku di bibir pintu
rumah yang terbuka. Ya, tepatnya di depan rumah Rama... hari ini adalah hari ke
6 bagi Rama. Dalam 6 hari itu, kesetiaanku masih ku gantungkan padanya meski
dengan ketidakpastian. Dengan langkah sopan dan berhati-hati, kulangkahkan
kakiku masuk ke dalam rumah Rama.. dan di sana telah ada ayah dan ibu Rama yang
nampaknya memang sudah menunggu kedatangan kami pulang.
“ Jingga, Rama.. kalian sudah
pulang”
Dengan wajah haru yang tak
bisa disembunyikan, ibu Rama berkata kepada kami.
“ Iya tante,
kalau begitu saya permisi
pulang tante, om”
“ Biar tante antar kamu sampai
depan”
Aku berjalan keluar dengan ibu
Rama, ketika aku hendak memasuki mobil, ibu Rama berkata lagi padaku,
“ Jingga, terima kasih”
“ Iya tante, sama-sama”
* * *
Senja berlalu, kini tercipta
hari yang baru. Mentari pagi bersinar cerah dengan keriangan nyanyian sang
pipit di pagi hari. Masih dengan niat yang ada di waktu kemarin. Kulaksanakan
segala aktifitas yang harus ku kerjakan, untuk nanti kemudian menemui Rama
kekasihku tercinta. Ku genggam handphoneku lalu kemudinan kutekan beberapa
digit nomor, nomor Rama. Lalu tersambung,
“ Hallo Rama....”
“ Iya jingga...”
“ Mau kemana lagi kita hari
ini ??”
“Aku masih ingin menikmati
keindahanmu jingga, meski harapan akan datangnya hujan untuk kehadiran pelangi
hari ini begitu kecil, tapi aku ingin tetap melihat lukisan keindahanmu lewat
alam...”
“ Lalu...???”
“ Bisakah kau menemaniku di
pantai yang kemarin kita kunjungi ?? aku suka senja di sana, memandang perlahan
matahari tenggelam dalam malam yang menjemputnya.. aku ingin 7 hari yang
kulalui dengan kehadiranmu menjadi lebih indah karena pancaran jingga dalam senjanya.
Mau kan ?”
“ Rama-ku sayang... tak usah kau khawatir, karena aku
akan setia menemanimu kemanapun kau pergi, percayalah.....!”
“ Meski ke alam lain ?”
“ Maksudmu ?”
Rama hanya tertawa kecil dan
kemudian mengakhiri perbincangan kami lewat telepon.
* * *
Waktupun berjalan dengan
teratur, masih dengan jarum jam yang berputar 24 jam penuh. Pukul 15.30, saatya
bergegas menjemput Rama di rumahnya. Aku berdandan tak seperti biasanya aku,
dengan gaya cuek yang biasanya kulakukan, aku feminin sekarang.
Ku klakson Rama ketika ku
sampai di depan rumahnya..Rama keluar dengan sedikit senyum yang tersisa di
bibirnya seketika memuji penampilanku hari itu.
“ kau nampak cantik jinggaku,
dengan warna-warna pelangi yang menghiasi pakaianmu, kau nampak indah seindah pelangi”
“ Rama......”
Aku tersipu malu.
Seperti kemarin, aku
mengelilingi bibir pantai sampai senja menjemput mentari. Bersama Rama.
Kemudian aku duduk sejenak untuk lebih menikmati keindahan alam di sore ini.
“ Rama sayang, kau bahagia kan
?”
“ tentu jingga...”
Sejenak suasana menjadi
hening. Rama nampaknya begitu lelah berjalan-jalan denganku hari ini. Wajahnya
nan rupawan berubah menjadi pucat pasi.
“ jingga.......”
“ Iya Rama sayang....”
“ jingga.......” untuk kedua
kalinya Rama memanggil namaku.
“ iya.....”
“Jingga.... jika tiba saatnya
nanti aku, aku ingin kau ada untuk senja dalam hidupku, berada di sampingku,
dalam kelemahan dan kerapuhan tuaku. Karena aku yakin kau adalah satu dari
sekian banyak manusia yang Tuhan ciptakan untukku. Jingga, aku mencintaimu.....”
“ Aku juga Rama, aku
mencintaimu”
Pelukan Rama begitu erat namun
lemah ku rasa. Dalam sisa kelemahannya dia berucap. Aku tak tau apakah aku
harus tersenyum ? sedang dengan sendirinya air mataku berlinang.
“ Rama sayang”
Ku coba untuk membangunkannya,
kufikir dia hanya tertidur dalam kelelahannya. Ku goyang-goyangkan badannya,
namun tak ada respon sedikitpun dari Rama. Dengan derai air mata yang terus
mengalir, aku tak tahan.... tak sadar mulutku berteriak kencang memanggil nama
Rama.
“ Rama...........................................................!!!
”
Dia telah tiada. Di hari ke 7
yang kita lewati. Hari ke 7 yang dia lewati bersamaku pasca dia keluar dari
rumah sakit 2 bulan yang lalu. Begitu derita ku rasakan. Penderitaan Rama
dengan kanker yang menyerang otaknya.
Ya !!! aku sedih, aku menangis
dalam ketiadaannya. Nur Cahya Ramadhan, kekasihku selama 3 tahun lalu kini
telah pergi. Namun aku tak bisa berbuat apapun. Aku tak bisa melawan takdir
yang telah Tuhan gariskan.
Rama........ dalam akhir
ceritamu, aku masih mencintaimu.
THE END
Indramayu, 20
September 2012
TUNTUTAN
PERAN DI SUDUT KOTA JAKARTA
Oleh : Fitriyani
Biodata diri
|
Nama
|
:
|
Ucok Darmawan
|
|
Umur
|
:
|
11 tahun
|
|
Status
|
:
|
Anak tunggal yatim piatu
|
|
Hobby
|
:
|
Nongkrong di lampu merah sambil
bawa kecrekan, nyopet (kalo lagi kepepet )
|
|
Cita-cita
|
:
|
Presiden rakyat gembel
jakarta
|
|
Riwayat Pendidikan
|
:
|
1. Sekolah copet kolong jembatan
2. Pelatihan ngemis seluruh
rakyat gembel
|
|
Motto
|
:
|
Menjadi
manusia adil bagi diri sendiri, selama pemerintah belum bisa memberikan
keadilan bagi seluruh rakyat secara merata. Hidup gembel !!!
|
* * *
“ huaaaaaaaammhh......”
Suara anak-anak menguap,
bangun dari istirahat mereka, begitupun dengan aku. Ya, namaku adalah ucok. Si
anak kolong jembatan jakarta. Sebenarnya ini tak layak kami sebut sebagai waktu
istirahat, karena kami adalah para kuli bagi diri kami sendiri. Kadangkala kami
tak punya waktu untuk sekedar berisitirahat. Sedangkan tuntutan perut kami
belum terpenuh. Tak bisa kami pejamkan mata, saat perut kami belum terisi.
“ Hai cok, kenapa kau melamun.
Hari masih pagi. Tak usah kau berkhayal. Orang-orang seperti kita ini dilarang
untuk bermimpi. Sadarlah... lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya kita bisa
makan hari ini”
Suara keras Bejo menyadarkanku
dari lamunan.
“ Santai saja lah jo, kita
jalani saja seperti biasanya”
“ Oke lah, kau sudah mandi kah
?”
“ Mandi ?? macam pejabat yang
akan pergi ke kantor saja kita harus mandi”
“ Jangan salah kau cok, kita
juga punya kantor”
“ Memangnya dimana kantor kita
?”
“ Lampu merah lah”
“ Hahahahahaha “ serentak kami
tertawa.
Bergegas aku dan
bejo beraktifitas. Kemacetan kota jakarta ini kami manfaatkan. Demi sesuap nasi
untuk hari ini kami sang pejabat lampu merah mulai bekerja.
“ Lihat cok, lampu sudah
merah. Saatnya kita bekerja”
“ Oke “
Berlari kami
menuju kantor harian kami. Dengan modal potongan bekas gagang sapu dan tutup
botol, kami beraksi. Konser kami mulai di bawah teriknya kota jakarta.
Aku ingin kau
merasa
Kamu mengerti aku
mengerti kamu
Aku ingin kau
pahami
Cintamu bukanlah
dia
Dengar laraku...
Suara hati ini
memanggil namamu
Karena separuh
aku... Dirimu...
Dengan suara agak
sumbang kami bernyanyi. Menyanyikan lagu yang tengah hits saat ini. Jangan
salah.... meskipun kami hanya tinggal di kolong jembatan, tapi kami juga harus
tetap update. Meskipun kami orang miskin, kami juga tak ingin ketinggalan zaman
doong
“ Terik sekali hari ini”
“ Eh jo, gimana hasil kerja
kita ? sudah kau akumulasi ?”
“ Bahasamu cok.. coook...
seperti pengusaha saja. Nih kau hitung saja sendiri”
“ 1000, 1500, 2500, 3000,
4000, 5000, Cuma 5000 jo. Dengan uang segini kita Cuma beli nasi satu bungkus...”
“ Cuma 5000? Ya sudahlah,
syukuri saja... memang kurang siih, Cuma................. kita mau korupsi juga
korupsi uang dari mana. Memangnya
mereka. Yang bersembunyi di balik dasi-dasi rapi mereka. Sudah dikasih kekuasaan
dan rizki yang cukup, tapi masih kurang saja. Malah mengambil hak kita lagi”
“ Hahaha, kau ini bisa saja
jo.. ya sudah, kita mo apakan uang segini ?”
“ Kau laper tidak cok ?”
“ Lumayan siih, sudah waktunya
jam makan siang juga...”
“ Kita itu tak punya jam makan
cok. Wong kita juga seringnya makan sekali dalam sehari”
“ Ya sudah, hayo kita cari
makan.”
* * *
Dingin kota
jakarta diwaktu malam, dibalik siangnya yang sangat terik. Penuh kepulan asap
hitam di udara.
Lihatlah ! Genteng rumah kami
begitu indah, dibuat dari langit malam yang hitam dengan hiasan bintang di
atasnya. Dinding rumah kamipun juga, namun maya. Kau hanya mampu merasakan
hembusan angin nan sejuk.. ya ! inilah rumah kami, sejuk bagai ber-AC. Lihatlah
kasur tidur kami, terbuat dari muatan-muatan informasi. Membuat kita semakin
cerdas bukan ? selimut kamipun sederhana, tapi cukuplaaaah... daripada tidak
ada sama sekali.
“ Huaaaaammmh. Mengantuk
sekali rasanya. Setelah bekerja seharian penuh... biarlah kunikmati malam dalam
mimpi. Semoga besok mimpiku menjadi nyata”
Larutnya malam melarutkanku
dalam kelelahan tidurku yang pulas.. menunggu fajar menjemput shubuh. Kami
memang miskin, bahkan mungkin lebih miskin dari orang yang disebut miskin.,
tapi kami masih kenal siapa itu tuhan kami.
* * *
Kerumunan orang begitu ramai
di hari ini. Dengan kertas karton yang mereka tulisi sesuatu, mereka berteriak.
Menuntut keadilan... memang benar, negara ini belum bisa adil. Aku adalah salah
satu diantara semuanya yang merasakan hal itu. Tapi kadang aku merasa heran. Di
balik demo yang mereka lakukan, ternyata mereka juga memihak pada salah
satunya. Apakah mereka sedang menyembunyikan sesuatu ? entahlah.... orang kecil
seperti kami dilarang tau.
Begitu mengharukannya negriku
ini.....
To
Be Continue...
HERAN
(???)
Oleh : Fitriyani
Terasa kejam
kadang kehidupan. Sendiri aku menyusuri kehidupan di kota ini. Malam yang
dingin ku terjang demi anak-anakku yang kelaparan. Negara ini begitu kejam. Ia
tak memberi ruang pada kami yang kelaparan karena kemiskinan.
Ckckckckck, tak
habis fikir aku akan negara ini. Dikemanakn uang-uang subsidi bagi kami.
Akankah bertambah orang-orang yang memiliki perut buncit ? namun perut mereka
bukan buncit karena kelaparan. Perut mereka buncit karena berisi ha-hak kami.
Dikemanakan janji-janji mereka dulu ?
Dalam setiap
kampanye mereka meneriakkan “ Mari dukung kami, demi terciptanya perbaikkan
yang benar-benar terealisasi”
Namun mana ?
Apakah memang
sudah menjadi kelumrahan hal seperti itu ? sungguh heran. Ada begitu banyak
contoh dan teladan yang baik, tapi mengapa mereka tak pernah ambil contoh ?
Apa artinya
perjuangan Soekarno dalam peperangan melawan negara-negara hebat di dunia ?
sedang setelah bertahun-tahun proklamasi dikumandangkan, namun nyatanya kami
masih merasa dijajah. Atau bahkan ini adalah bentuk jajahan yang lebih kejam
dari masa penjajahan sebelumnya. Kami dijajah oleh kaum kami sendiri. Di balik
dasi dan kemeja rapih yang mereka pakai.
Berlindung di
balik meja berpapan nama. Dengan kewenangan yang mereka miliki, mereka
menginjak-nginjak kami. Sudah tau kami berada di bawah, malah semaki mereka
menginjak kami.
Andai Tuhan
mengirim malaikat pencabut nyawa ke dunia, entah yang mana yang akan di cabut
nyawanya terlebih dulu. Kami kah ?karena kami kadang merasa tak tahan
menghadapi ujian yang kami rasakan kini. Ataukah mereka manusia yang memiliki
banyak dosa, yang mungkin lebih banyak dari dosa-dosa kami.
Kemanakah fungsi
KPK yang selama ini didirikan demi pemberantasan kaum biadab itu ? tak pernah
kami lihat kerja mereka. Malah mereka yang merupakan bagian dari para pengentas
masalah itu malah ikut berkecimpung di dalamnya.
Heraaan......(???)
THE
END
HIDUP DAN KEHIDUPAN
Oleh : Fitriyani
|
s
|
ungguh sunyi malam terasa. Keramaian malam yang biasa kudengar, kini
terdengar dengan candaan malam yang mencekam. Kelurahan Sukodadi pukul 22.30
WIB.
“ Rif, kau belum tidur saja. Kalau kau sudah hendak tidur, jangan lupa
untuk mengunci pintu !!”
“ iya bu….”
Keheningan malam membuat otak-ku berkeliling akan hal-hal tentang
kehidupan di masa depan. Suara omelan manis sang ibunda kembali terdengar.
“ Rif, jangan kau lama-lama berdiam diri duduk di bawah pohon ! tak
baik untuk kesehatanmu. Cepatlah masuk dan beristirahat !”
“ iya bu…. Sebentar lagi Arif akan masuk”
“ ya sudah ibu masuk duluan, ibu sudah mengantuk”
“ iya bu….”
Sebatang rokok masih setia dengan kepulan asapnya, menemani malam yang
masih penuh dengan harapan dan impian-impian tentang hari esok. Terlalu sering
ku mengadu dan kini aku sedang dalam titik kejenuhanku. Bosan terasa hidup.
Khayal dan mimpi terlalu sering berlalu lalang menjelajah daerah otakku. Rasa
nikmat segelas kopi ini sedikit demi sedikit surut dan hilang hingga yang tersisa hanya pahitnya. Rupanya malam
sudah begitu larut hingga ku lupa akan waktu. Mata pun perlahan mulai terasa
kantuknya. Mungkin sudah saatnya raga ini beristirahat.
* * *
“ Rif, bangun… waktu sudah shubuh”
Suara omelan manis wanita tua itu membangunkan mimpiku. Begitu cepat
waktu berjalan, perasaan aku baru saja memejamkan mata, sudah terdengar saja
suara ocehan ayam jago. Dengan langkah tertatih dalam kantuk yang masih
menggodaku di shubuh ini, aku berjalan menuju kamar mandi tuk sekedar mencuci
muka dan mengambil air wudlu.
* * *
Rupanya terang sekali mentari pagi ini. Apakah akan sesuai dengan
harapan dan mimpi-mimpiku? Entahlah… biarkan waktu yang kan menjawabnya.
Setiap hari ku gantungkan harapanku pada detik-detik kehidupan yang
terus berputar. Dalam setiap detiknya pasti kudapatkan cerita baru dalam
hidupku. Dari hal manis hingga mungkin hal terpahit yang pernah ada dan
kurasakan dalam hidup ini. 27 tahun melewati hidup yang sarat dengan
liku-likunya. Dari hal kecil hingga hal rumit sudah kurasakan. Bangku kuliah
hingga gelar sarjana yang aku dapatkan menjadi serasa tak berarti.
Pagi ini begitu indah dengan sinarannya. Teras rumah yang begitu hangat
karena sinar matahari menemaniku dalam tingkat kegalauan yang kurasa saat ini.
Dengan nada-nada yang kupetik dari gitar tua, kawan setiaku sejak aku duduk di
bangku SMA, kunyanyikan lagu-lagu sebagai penghibur diri. Tiba-tiba suara
ocehan terdengar di sekitarku.
“ kau mau hidupmu seperti ini saja Rif ?”
Awalnya, tak ku hiraukan ocehan lelaki tua itu.
“ usiamu sudah 27 tahun, dan kau memiliki gelar sarjana. Apakah setiap
hari pekerjaanmu akan terus seperti ini ? apa kata tetangga ? apa kata
orang-orang nanti ? ‘sarjana kok nganggur. Sarjana kok kerjaannya ngamen. Mau
dikemanakan titel sarjana ekonomi kamu’ Bapak sudah tua Rif… tenaga bapak ada
batasannya. Apa mungkin kau bapak hidupi sampai kau tua ?”
Dan kedua kalinya aku tak menghiraukan. Aku hanya diam dengan senar
gitar yang ku petik dengan lembut.
“ kalo ada orang tua ngomong di jawab atuh Rif, setidaknya disahutin.
Kamu malah diam saja kaya orang bisu”
“ Arif mesti jawab apa toh pak. Bapak kan tau sendiri Arif sudah
berusaha mencari kerja kesana kemari tapi tetep ga dapet. Arif ga Cuma diam
saja Pak. Biarkanlah saja orang-orang mau berkata apa. Toh yang ngejalanin ini
semua Arif kan Pak. Bapak tenang saja, Arif tau diri, dan ga mungkin Arif akan
terus menyusahkan Bapak.”
“ iya….
Bapak ngerti. Tapi kapan ? semenjak kau di-wisuda beberapa tahun lalu
kau malah lebih suka berdiam diri di rumah dengan gitarmu itu. Usahamu mana
Rif?”
“ Arif sudah berusaha Pak !”
Tiba-tiba suara ibu terdengar memotong perdebatan kami.
“ sudah pak, sudah…jangan kau terus-terusan memarahi anakmu. Arif ini
anak kita satu-satunya”
“ ibu ini selalu membela Arif. Dia sudah dewasa bu, sudah saatnya
mandiri”
Dengan nada menggerutu dan agak kesal bapak masuk ke dalam rumah.
“ yang dikatakan bapakmu itu benar Rif. Kau ini sudah dewasa, sudah
saatnya mandiri. Akan tiba saatnya nanti kau beristri dan memiliki keluarga
sendiri. Kalau kau begini-begini saja, mau kau kasih makan apa anak dan istrimu
?”
“ iya Bu, Arif mengerti. Arif juga bosan hidup seperti ini. Tapi Arif
juga bosan dengan penolakan-penolakan yang Arif selalu terima dari
perusahaan-perusahaan itu ”
Bosan, jenuh, bimbang, dilema dan galau mengisi hari-hariku saat ini.
Kebosanan ini perlahan-lahan membunuh setiap angan yang tercipta dalam otakku.
Pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan terus menghantuiku. Apakah hidup ini
memang tak menyisakan sedikit saja keadilannya untukku. Atau, apakah memang
Tuhan sudah menutup jalan Rohmannya untukku. Entahlah… ini terasa menyiksa jika
terus-terusan ku fikirkan.
* * *
Langit shubuh kembali membangunkanku dari mimpi-mimpi dan angan yang
tak tahu kapan akan terwujud. Dilangit shubuh ini sujudku serasa nikmat
kurasakan. Setiap doa-doa yang kupanjatkan serasa begitu indah di fajar ini.
Kini kumerasakan gairah hidupku telah kembali. Aku yang selama ini serasa mati
menjalani hidup, kini ku raih kembali kehidupanku yang telah lama padam.
Untaian dzikir tasbih yang memanjang, bagai merdu alunan nyanyian sebuah
kerinduan.
Setiap nasihat yang selama ini kuanggap sebagai ocehan, kusadar bahwa
apa yang mereka ucapkan adalah demi kebaikan dalam hidupku. Kasih orangtua yang
selama ini kudapat belum tentu bisa ku balas. Di langit shubuh yang penuh
rahmat ini akhirnya kudapatkan hidayah. Aku harus bangkit dari keterpurukanku.
Hidup ini masih begitu panjang. Akan sia-sia jika ku hanya berdiam diri
menganggur di rumah.
Akhirnya, setelah semuanya berjalan begitu indah dalam singkatnya waktu
berfikir, di pagi ini ku putuskan untuk mencoba mencari pekerjaan lagi. Mencari
sisa-sisa keberuntungan dari kehidupan yang ku jalani. Mengharapkan dewa
fortuna sedang berpihak kepadaku.
“ mau kemana kau Rif ? tumben sekali kau sudah berdandan rapih
pagi-pagi seperti ini..”
suara Bapak terdengar semakin mendekatiku saat aku sedang mencoba
mengikat tali sepatuku.
“ sudah kufikirkan semuanya pak, dan memang benar. Hidup ini begitu
sia-sia jika aku tetap berada dalam keputus asaan. Dan kini aku mencoba bangkit dari
keterpurukan yang selama ini aku alami. Doakan saja, semoga usaha Arif untuk
mencari kerja hari ini tak berujung pada kesia-siaan”
“ amiin, kami orangtua akan selalu mendoakan yang terbaik untuk
anaknya”
“ kalau begitu
Arif permisi berangkat dulu Pak.. dimana ibu ?”
“ ibumu sedang
pergi ke pasar tadi pagi-pagi sekali”
“ ya sudah Pak, sampaikan saja pada ibu kalau Arif berangkat ingin
menaklukan kehidupan. Dan mohon doanya. Assalamu’alaikum….”
“ Wa’alaikumssalam”
* * *
Terik panasnya mentari kuterjang. Teringat selalu kasihmu ibu yang
setia mengiringku dengan doamu. Tak patah semangat terus ku berjalan di bawah
naungan langit siang ini. Dari satu gedung ke gedung lain telah ku masuki,
namun belum kutemukan jawaban berbeda diantara semuanya. Semuanya memberikan
jawaban yang sama, “ maaf mas, tidak ada lowongan kerja di sini” atau jawaban “
maaf, lowongan kerja sudah terisi”. Beberapa kali jawaban itu membuat asaku
surut. Ku terngiang pesan sang ibuku tersayang “ jangan menyerah”, ku pompa
lagi semangatku hingga menjadi api semangat yang menyala-nyala.
Berjalan dan terus berjalan, kuyakinkan dalam hati bahwa kali ini aku akan mendapatkannya. Ya ! aku bisa.
Tertulis kalimat “ada lowongan kerja”. Ya, dan aku semakin optimis. Kemudian
perlahan ku langkahkan kakiku memasuki gedung. Dengan wajah agak sedikit
bingung aku bertanya pada seorang wanita yang sedang duduk di balik meja
resepsionis.
“ permisi mba, saya melihat di depan ada tulisan ‘ ada lowongan kerja’,
apakah posisi itu sudah terisi ?”
“ oh untuk masalah itu anda bisa menghubungi manager kantor ini, nanti
anda bisa tanyakan di sana”
“ ruangan manager-nya dimana ya mba? “
“ anda tinggal lurus saja, lalu belok kiri. Nah, disitu anda bisa
menemukan ruangan manager ”
“ terima kasih mba “
“ iya sama-sama “
Setelah kudapatkan info yang ku cari, akupun langsung beranjak untuk
mencari ruangan. Dan setelah kutemukan, langsung ku ketuk pintu dank ku ucapkan
salam.
“ permisi…”
Terdengar suara menyahut salamku dari dalam ruangan
“ ya silahkan masuk…”
Kumasuki ruangan dan terlihat seorang pria tengah duduk di belakang
meja kerjanya, lalu kemudian mempersilahkanku duduk.
“ permisi pak, saya mau menanyakan masalah lowongan kerja di sini “
“ oh iya, kebetulan kami memang sedang membutuhkan pegawai OFFICE BOY
baru, dikarenakan OB yang dulu mengundurkan diri “
Aku sedikit tercengang mendengar pernyataan pria itu. Kantor ini
membutuhkan OB ? apa ?!!! OB ? aku seorang sarjana ekonomi bekerja menjadi
pegawai OB ? apa-apaan ini. Mau dikemanakan titel sarjana ekonomi-ku. Belum
selesai aku dengan rasa kaget yang kudapatkan, terdengar sebuah pertanyaan yang
sepertinya dilontarkan kepadaku..
“ mas, bagaimana ? apakah anda bersedia ? jika anda bersedia, anda
tinggal menyerahkan formulir data diri anda beserta dengan semua persyaratan
yang diajukan kantor, dan besok anda bisa langsung bekerja. Bagaimana ? “
Aku masih bingung dengan semua ini. Harus bagaimanakah aku ? apakah aku
harus mengorbankan titel sarjanaku yang dengan susah payah aku raih dalam waktu
4 tahun lamanya. Ataukah aku harus mengorbankan rasa egoku ? ya tuhaaaan….
Harus bagaimana aku ? keputusan apa yang harus aku ambil sekarang ini ?
Dengan reflek aku menjawab
“ maaf pak, mungkin saya salah masuk. Saya mohon permisi…”
Aku kecewa, aku keluar ruangan dengan wajah penuh kekecewaan. Baru
beberapa langkah aku berjalan keluar dari gedung kantor itu, aku teringat akan
perkataan-perkataan orangtua-ku. Apakah hidupku akan terus berjalan dengan nada
seirama namun tak bergerak maju. Aku tak bisa terus seperti ini? Setidaknya
harus ada perubahan dalam hidupku, walau hanya satu langkah maju. Tapi kegalauan
menghantuiku sejenak. Namun kemudian ku putuskan satu hal, ku yakinkan dalam
hati bahwa aku harus melangkah maju. Ya !!! maju !.
Ku putar balik arah jalanku menuju ruangan yang tadi ku kunjungi. Tak
peduli aku sebagai apa dan tak peduli mukaku ingin ku taruh dimana setelah
pernyataan yang telah ku lontarkan beberapa menit yang lalu di ruangan itu.
“ maaf pak, permisi “
“ iya, ada apa ? apakah anda berubah fikiran ?”
“ setelah saya fikir-fikir lagi, sepertinya saya siap untuk bekerja
sebagai OB di kantor ini, dan ini berkas-berkas persyaratan pengajuan lamaran
kerja saya, mohon diterima”
“ OK, berkas ini saya terima, dan besok anda bisa langsung bekerja di
kantor ini. Selamat bekerja dan selamat bekerja sama.”
“ OK terima kasih Pak”
* * *
Pekerjaan baru telah ku dapatkan kini. Meskipun hanya sebagai OFFICE
BOY, tetapi setidaknya aku telah terbebas dari jerat pengangguran. Setelah ku
kabarkan berita ini kepada orang tua-ku, respon keduanya biasa saja tak sepanik
aku yang ketika harus mengorbankan gelar sarjana-ku yang selama ini ku
perjuangkan. Skill memang ternyata sangat dibutuhkan dalam hal ini. Satu pesan
tersirat yang kudapatkan ketika aku mengabarkan tentang pekerjaan-ku kepada
orang tua-ku adalah bahwa jangan takut untuk memulai semuanya dari hal terkecil.
Karena segala sesuatu itu dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan. Tidak
akan ada hal besar dalam hidup jika tidak ada hal kecil sebagai pembandingnya.
* * *
Seiring waktu berlalu dengan semangatku yang masih menyala-nyala,
kusadari bahwa usia orang tua-ku sudah tak muda lagi. Dan aku sebagai
satu-satunya putra yang mereka miliki belum bisa memberikan sesuatu yang bisa
mereka banggakan. Di usiaku yang akan menginjak 28 tahun, aku belum bisa
menjadi seseorang bagi mereka.
Bapak-ku sering sakit-sakitan akhir-akhir ini. Batuk yang tak henti
membuatnya menderita terutama pada waktu malam hari, kini telah menjadi teman
akrab baginya. Ibu-ku dengan setia mengurus bapak yang sedang sakit.
Ketika penyakit batuk yang Bapak derita nampak semakin parah, kami pun
memutuskan untuk memeriksakan Bapak ke dokter. Dan setelah di cek, hal yang
selama ini kami takutan pun terjadi. Bapak terkena penyakit TBC yang kini sudah
akut karena kebiasaan merokok Bapak yang tak terkendali setiap harinya. Aku tak
tau apa yang mesti aku lakukan sekarang. Dengan gajiku yang pas-pasan sebagai
OB, aku tak yakin bisa membiayai berobat Bapak untuk sampai dirawat di rumah
sakit. Hasil penjualan sawah dan kebunpun telah terkuras untuk biaya pengobatan
Bapak.
Dalam tangis setianya ibuku berkata
“ Nak… kau tak usah khawatirkan kami. Bekerjalah dengan semangat.
Insya-Allah bapak-mu akan sembuh “
“ Amiin bu, Arif pun berharap seperti itu. Tapi… untuk kesembuhan
bapak, kita juga mesti mengusahakannya. Yaitu dengan cara mempercayakan Bapak
untuk dirawat oleh dokter. Bapak mesti dirawat di rumah sakit bu”
“ iya, tapi kita punya uang dari mana ? “
“ Arif akan usahakan bu, semampu yang Arif bisa “
Dalam hati dan pikiran-ku, aku bertanya-tanya, mau cari uang kemana
untuk perawatan Bapak…. Dalam keadaan seperti ini hanya satu yang bisa ku
lakukan untuk mengawalinya, sholat dan berdoa. Ya, hanya itu mungkin jalan awal
yang harus kulakukan. Bersujud memasrahkan diri pada sang ilahi, memohon
petunjuknya dan meminta ketenangan untuk mengatasi hal ini. Kemudian, setelah
ku pasrahkan segala urusan kepada-Nya dengan ikhlas, aku mulai berusaha untuk
mencari jalan keluar dari masalah ini.
Ujung demi ujung hingga sudut-sudut desa ini ku telusuri. Dari pintu ke
pintu telah ku ketuk untuk mencari pinjaman dana untuk rumah sakit. Tapi belum
ada sejumlah uang-pun yang aku dapatkan.
“ ya Allah, mungkin hamba adalah seburuk-buruk hamba-Mu, yang selalu
terjerat dalam kekhilafan dan dosa. Hamba tau hamba adalah manusia tanpa daya
tanpa kuasa-Mu. Hamba mohon, sembuhkanlah Ayah hamba. Sayangi beliau
sebagaimana mestinya. Kekhilafan yang selalu hamba lakukan jangan menjadi
pertimbangan kasih-Mu atas orang tua hamba. Sembuhkan Ayah hamba, yang hamba
sayangi….”
Keputus asaan hampir melandaku untuk kesekian kalinya. Aku yang tak
berhasil mendapatkan sejumlah uang yang harus kudapatkan untuk pengobatan
Bapak-ku, mau tak mau aku harus kembali pulang dan menengok Bapak. Langkah yang
penuh dengan keletihan serta kekecewaan dalam perjalanan pulang-ku.
Setelah ku sampai di rumah, mengetuk pintu dan memberi salam, ibu
membukakan pintu dan mempersiahkanku masuk. Sembari ku buka tali sepatuku aku
berkata dengan sedikit rasa bersalah kepada Ibu.
“ Bu, maaf… Arif belum bisa mendapatkan pinjaman untuk pengobatan Bapak
“
“ Tak usah kau fikirkan masalah itu Rif “
Ibuku menangis, aku bertanya-tanya.
“ kenapa Bu ? “
“ Bapakmu Rif…..” dengan nada lirih ibu berkata padaku
“ ada apa dengan bapak ? “
“ kau tak usah susah-susah lagi mencari pinjaman, Bapakmu…Bapakmu sudah
tak memerlukannya lagi. Allah telah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada Bapakmu
“
“ apa maksud ibu ? apakah bapak sembuh atau bagaimana ? “
Ibu hanya terdiam dalam tangisnya. Tanpa pikir panjang aku bergegas
menuju kamar Bapak. Di sana telah ada Pak RT, Ustad, para beberapa tetanggaku.
Kulihat Bapak yang terbaring lemah dalam pejaman matanya.
“ Pak RT ? kok jadi banyak orang di sini. Ada apa sebenarnya ? Bu, ada
apa ini ? “
Ibuku hanya menangis. Pak Rt menjawab pertanyaanku.
“ yang sabar Rif, bapakmu telah berpulang ke rahmatullah. Yang ikhlas “
Dengan rasa setengah tidak percaya aku hanya mampu berdiri menatap iba
Bapak-ku yang terbaring tak bernyawa. Aku belum sempat mempersembahkan sebuah
kebanggaan untukmu, namun Tuhan berkata lain atas takdirmu. Aku hanya mampu
berdiri tak berdaya melepas kepergianmu. Tapi keadaan ini memaksaku untuk
ikhlas akan kepergianmu. Tangis ini serasa meronta ingin air mata ini jatuh,
namun tak bisa. Tapi jiwa ini terus meronta menangis dalam kesedihan.
Serasa tak kuat ku ayunkan langkah untuk mengantar kepergian Bapak ke
tempat peristirahatan terakhirnya. Aku pria, aku harus terlihat tegar demi
Ibuku. Jika aku tak tegar, maka aku hanya akan menambah beban kesedihan bagi
Ibuku.
“ Bu, jika makam ini adalah tempat yang Allah pilih sebagai tempat yang
lebih baik dibandingkan dengan dunia ini, maka kita harus mengikhlaskan apa
yang telah menjadi ketentuan Allah Bu. Semoga Bapak mendapat tempat yang layak,
dan segala amal ibadah Bapak diterima di sisi Allah “
“ Iya Rif, amiin…”
Orang-orang berta’ziyah ke rumah kami. Sementara kami sedang dalam
berduka, aku pun memutuskan untuk tidak masuk kerja dulu sampai tujuh hari
berlalu dari kepergian Bapak.
* * *
Tujuh haripun berlalu masih dengan kesedihan yang meneyelimuti
keluargaku. Aku mulai masuk kerja lagi hari ini, setelah melewati tujuh hari
yang sangat panjang bagi kesedihanku juga ibuku.
Setelah sampai di kantor, aku tak mendapatkan firasat atau pertanda
apapun. Ku laksanakan semua pekerjaanku seperti biasanya, membuat kopi,
menyediakan pesanan dari para pegawai kantor lainnya. Disaat ku sedang
melaksanakan pekerjaanku, tiba-tiba, Joko, rekan kerjaku datang dan memberi
tahu aku sesuatu.
“ Rif, kau di panggil Pak manager untuk ke ruangannya sekarang “
“ oh iya, nanti saya akan ke sana setelah mengantar kopi ini “
Tak ada sedikitpun rasa curiga dalam hati akan terjadi sesuatu yang
besar padaku. Aku merasa biasa saja, sama seperti hari biasanya. Kulangkahkan
kaki menuju ruangan Pak Hendrawan, manajer kantor tempat ku bekerja.
“ eh Rif, silahkan duduk dulu “
“ ada apa ya Pak saya dipanggil ke sini ? apa saya melakukan suatu
kesalahan dalam kerjaan saya ? “
“ begini Rif, sekarang ini kantor sedang mengalami krisis yang sangat
drastis karena beberapa hal yang tak bisa saya jelaskan padamu detailnya
seperti apa. Jadi……”
“ jadi apa pak ? “
“ jadi….
Saya mohon maaf sebelumnya, kantor ini harus mengurangi beberapa
pekerja untuk meminimalisir masalah krisis yang melanda kantor kita ini. Jadi,
maaf, kamu harus diberhentikan dari kantor ini, dan ini surat PHK kamu “
Aku tak bisa berbuat apapun, kaget pastinya aku rasakan. Dalam hati
ingin rasanya menolak pernyataan itu tapi aku sudah terlebih dahulu tak berdaya
dibuat olehnya. Kulangkahkan kakiku dengan ketidakberdayaanku karena mendengar
hal itu, aku di-PHK. Ini tidak mungkin, hatiku menolak kebenaran yang terjadi
padaku. Ya, aku di-PHK dari tempatku bekerja. Setelah Bapak-ku pergi dan
sekarang aku di-PHK ?!!! begitu lengkap ku rasa penderitaan hidup-ku sekarang.
Aku berjalan menyusuri setiap sudut-sudut jalan di kota ini, mengikuti
arah jalurnya menuju desa di pinggiran kota yang aku tinggali bersama ibu-ku
hingga saat ini. Otak-ku terus berputar memikirkan bagaimana caranya aku menyampaikan
kabar buruk ini kepada ibuku.
Maafkan aku bu, aku merasa telah menjadi orang yang gagal untuk dirimu
serta almarhum Bapak.
Setibanya aku di rumah, tak ada sedikitpun kecurigaan padaku yang
Nampak dari wajah ibu-ku. Aku pulang sebagaimana waktu aku pulang kerja
biasanya. Ibuku menyambutku, dan menyuruhku istirahat seperti biasanya.
Malam ini begitu panjang dalam putaran waktunya. Dengan segala duka
yang kurasa saat ini. Harus bagaimana aku? Memejamkan matapun seolah aku tak
mampu. Setiap ku coba memejamkan mata ini, aku terbayang wajah ibu-ku.
Bagaimana kalau ibu-ku tau tentang hal ini. Entahlaah……. Aku sangat dilema.
Akhirnya dalam kelelahanku setelah menjalani kegiatan hari ini, aku
terlelap dalam tidurku yang panjang, menunggu hari esok yang aku tak tahu
bagaimana cara menyampaikan kabar ini kepada ibu-ku.
* * *’
Pagiku menjemput kembali. Masih dengan sebuah dilema besar yang
melandaku dari hari kemarin hingga hari ini.
Aku hanya duduk di teras pagi ini, dengan segelas kopi hitam yang telah
ku buat sebelumnya. Ibuku memandangiku sebentar dari balik pintu, mungkin dia
heran mengapa aku tak berangkat kerja hari ini. Kemudian dia bertanya padaku.
“ rif, kau tak kerja ?”
Aku hanya diam. Aku tak mau berbohong tapi aku bingung akan memulai
dari mana pembicaraan ini.
“ bu, sebelumnya Arif minta maaf “
“ ibu sudah tau “
“ dari mana ibu tau ?”
“ ibu menemukan surat PHK di kamar-mu “
“ lalu mengapa ibu menanyakannya kepadaku ?”
“ ibu hanya ingin jawaban jujur dari mulutmu. Ya sudahlah, mungkin
Allah menyediakan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaanmu dulu “
“ terima kasih atas pengertiannya bu “
* * *
Ku nikmati keindahan pagi dengan berkeliling desa untuk sekedar
menghilangkan penat di otakku. Ku susuri setiap jalan, pemandangan sawah hijau
menyambut pandanganku. Indah terbentang luas langit biru di ketinggian sana
menambah indah lukisan alam yang Tuhan ciptakan. Dalam kesendirian aku
me-refresh otakku.
Aku duduk di pinggiran kali kecil, untuk sekedar melempari kali itu
dengan batu-batu kerikil yang ada dalam genggamanku. Kulihat air mengalir
dengan tenangnya, bening dan bersih. Aku teringat akan diriku, aku adalah
pengangguran untuk yang kedua kalinya. Namun sejenak kuhilangkan pikiranku
tentang hal itu. Yang kuinginkan sekarang hanyalah ketenangan, kedamain hati
dan jiwa sedamai perasaanku berada di sini.
Kulihat lagi aliran air sungai yang mengalir hingga ujungnya. Sepanjang
ujung sungai yang terjangkau oleh penglihatan mataku, kulihat sosok gadis nan
rupawan tengah berjalan sendiri di sana. Apa yang ia lakukan aku tak tau. Namun
sesekali ia memotret pemandangan sekitar dengan kamera yang ia pegang di
tangannya. Aku hanya memperhatikannya dari tempat ku duduk. Dan ia semakin
dekat dengan posisi dimana ku berada. Nampak dari penampilnnya dia adalah gadis
kota, bukan gadis dari desa ini.
Dia melihatku yang sedang duduk, dan aku pun melihatnya. Pandangan kita
saling bertemu. Akhirnya aku menegurnya, menanyakan apa yang sedang ia lakukan
di sini. Kami saling berkenalan, ku Tanya namanya dan ia menjawab “ aku, syifa
“, nama yang sangat indah, seindah paras yang ia miliki. Di balik jilbab yang
ia kenakan aku tertarik padanya. Kami memang baru saja kenal. Dan mungkin ini
bisa disebut sebagai proses persahabatan yan begitu singkat. Syifa menyukai
fotografi, karena hal itu dia suka memotret keindahan-keindahan yang ada di
sekitarnya. Disela obrolan kami, dia menanyakan tentang diriku. Dimana rumahku,
dimana tempat kerjaku dan semuanya. Aku merasa dia adalah orang yang dapat ku
percaya, kuceritakan semuanya termasuk ku ceritakan bahwa aku adalah seorang
pengangguran kini. Seharian penuh aku berjalan dan berbagi cerita dengan Syifa.
Aku tak mau bercerita banyak tentang petemuanku dengan syifa, karena
akupun tak mempunyai cerita banyak yang bisa kuceritakan. Hanya sekali dan
sehari di hari itu, tentang Syifa dan tentang aku. Dalam sehari dia mampu
membangkitkan semangatku. Dia berkata “ jangan menyerah, carilah kerja dimana
kau bisa nyaman melakukan pekerjaan itu. Pikirkan ibumu, dan pikirkan untuk
masa depanmu, bersama anak istrimu kelak. Jangan biarkan mereka menderita hanya
karena keputus asaanmu.” Syifa benar.
Merdu suara syifa masih kuingat kala ia memberi semangat. Keesokan
harinya aku mulai bangkit dari keterpurukanku. Aku mencari kerja dan akhirnya
kudapatkan pekerjaan yang sesuai denganku, sesuai dengan titel sarjana-ku,
menjadi pegawai bank. Dan semenjak pertemuan dan perpisahan kami di perbatasan
kota dengan desa yang aku tinggali, sejak saat itu tak pernah kutemui lagi
sosok Syifa sang penyemangat sehari dalam hidupku. Aku tak pernah bertemu
dengan dia lagi…
Setiap
langahku tak berarti saat tak kutemukan kau di sudut nyata dalam hidupku
Aku
hanya mampu melihatmu dalam imajiku sebelumnya
Gadis
cantik nan menawan, kau telah memenjara hatiku tiba-tiba
Saat
pertemuan kita di batas kota ini
Aku
yakin kau adalah belahan jiwa yang ku tunggu
Setelah
sekian lama tak ku fikirkan bagaimana cara mendapatkanmu
Wahai
gadisku, dunia ini berhenti berputar ketika dalam otakku terbesit wajahmu
Dalam
bayang semu keindahan parasmu
Aku
menari kini di ujung penderitaan yang ku rasa
Dalam
tarian itu aku bahagia
Meski
lara menghampiriku setiap waktuku tanpa hadir sosokmu dalam imajiku
Kau
datang di waktu yang tepat
Saat
aku mulai goyah dan hampir jatuh
Kau
membangunkanku, membuatku bangkit karena keindahan sosokmu yg ku kagumi
Kau
spirit yang tak terduga
saat
kehidupan menawariku berjuta warna yang membuatku bingung
kau
muncul dengan satu warnamu
memberiku
harapan bahwa aku bisa menaklukan dunia dgn kehadiran dirimu di sisiku
gadisku,
tetaplah ada untuk setiap waktu yang berputar dalam hidupku
tetaplah
ada untuk setiap keluh kesahku
gadisku,
ku ingin dirimu….(28-SEPT-2012)
To Be
Continue...

0 komentar:
Posting Komentar